Kane mengangkat alis. "Apa itu?"

"Bawa aku keluar dari pulau ini," kata Sherly dengan nada tegas. "Bawa aku kembali ke tempat asalku."

Valen mendengus. "Permintaan besar untuk seseorang yang baru saja kami selamatkan."

"Aku bisa membantu kalian," kata Sherly dengan nada meyakinkan. "Aku tahu tentang orang-orang di sini dan mengenal tempat ini. Aku tahu bagaimana kalian bisa menemukan apa yang kalian cari."

Kane memperhatikan Sherly sejenak sebelum berkata, "Baik. Tapi pertama-tama, aku ingin tahu tentang seseorang bernama Milo. Kau tahu di mana dia?"

Wajah Sherly berubah, tetapi dia segera menyembunyikan kegugupannya. "Milo? Aku pernah mendengar nama itu. Bukankah dia dari dimensi lain juga. Tapi aku tidak tahu pasti. Seseorang bernama Leena mungkin lebih tahu tentang dia."

"Leena?" tanya Kane, penasaran.

Sherly mengangguk. "Dia tinggal di sebuah perkampungan kecil di sebelah barat. Jika kalian ingin mencari Milo, kalian harus bertanya pada Leena. Tapi aku tidak yakin dia mau memberi tahu kalian."

"Apa alasannya dia tidak mau memberitahu?" Tanya Kane dengan nada tegas menahan amarah.

"Leena suka menipu orang, dia selalu memanfaatkan orang lain demi keuntungan dia sendiri. Aku yakin Milo pasti sudah di manfaatkannya." Kata Sherly dengan wajah lugu.

Kane mempertimbangkan informasi itu, lalu mengangguk. "Baik. Kau ikut dengan kami. Tapi jika kau mencoba mengkhianati kami…"

Sherly mengangkat tangannya. "Aku tidak akan mengkhianati kalian. Aku hanya ingin keluar dari sini."

Sementara itu, dari balik pepohonan, seseorang bersembunyi di balik sebuah pohon tidak jauh dari perkemahan Kane, mengintai apa yang di lakukan Kane dan kelompoknya. Terlihat beberapa luka hangus di beberapa tubuhnya.

"Jadi mereka memang bukan manusia dari dunia ini. Itu sebabnya mereka memiliki senjata penghancur yang dapat menghancurkan para prajuritku." Batin pria itu dengan marah.

"Pemimpin Ruvan..." bisik salah satu anggotanya yang datang mendekati.

Ruvan, salah satu pimpinan terkuat Monrest yang sebelumnya kalah melawan Kane dan melarikan diri, memutuskan untuk mengikuti dan mencari kesempatan untuk membalas dendam atas kekalahannya. Ruvan tidak ingin kembali hanya dengan membawa berita kekalahan yang akan merusah citra dirinya.

Ruvan memperhatikan percakapan Kane dengan Sherly dengan mata tajam. Tubuhnya penuh luka, tetapi ekspresinya berubah menjadi senang ketika mendengar pembicaraan tentang Sherly. Dia merasa upayanya mengikuti mereka memberikan informasi penting yang diluar dugaan.

“Jadi, wanita ini juga dari dimensi lain,” gumam Ruvan dengan nada licik. “Dia datang sekian bulan yang lalu, mungkinkah dia datang karena acara ritual? Dia bisa menjadi korban berikutnya untuk membangkitkan leluhur Monrest.”

Ruvan yang di datangi salah satu prajuritnya, segera menyusun rencana, dan dia ingin tetap mengikuti rombongan Kane dari kejauhan.

"Rencana kita berubah, perintahkan mereka untuk bertahan di tempat aman, jauh dari sini. Aku memiliki rencana baru." Perintah Ruvan.

Beberapa waktu kemudian, saat mendekati fajar, suasana di perkemahan Kane terasa penuh ketegangan. Kane masih menyimpan amarah karena dua anggota timnya telah tewas dalam penyergapan beberapa hari sebelumnya. Dua anggota itu adalah para prajurit yang selalu menemaninya menjalankan misi dan selalu kembali dengan selamat. Dia tahu sisa tim lainnya masih berduka dalam diam. Api unggun berkobar kecil, cahayanya memantulkan bayangan tajam ke wajah-wajah mereka.

Kane duduk di dekat api unggun, pisau kecilnya tertancap di tanah di dekatnya. Tangannya menggenggam gagangnya dengan kuat, tatapannya gelap, penuh kemarahan. Dua anggota tewas, dan luka-luka di badan Kane yang terlihat baru habis dijahit adalah pengingat betapa ganasnya serangan itu.

“Penduduk lokal itu…” desis Kane, memecah keheningan. “Mereka tidak tahu siapa yang mereka ganggu.”

Valen, yang berdiri tak jauh, memandangnya dengan sorot mata tajam, ekspresi marah terlihat di wajahnya. “Mereka menyebabkan Garin dan Seraphina tewas. Aku ingin membalas mereka.”

“Benar,” balas Kane, suaranya penuh amarah. “Itu pembantaian. Mereka menyergap kita dan tidak peduli pada siapa pun, mereka pantas untuk dihancurkan.”

Sherly, yang duduk di dekat api unggun, menangkap kesempatan ini. Dia tahu inilah saat yang tepat untuk menabur benih kebencian lebih dalam.

“Kau benar,” kata Sherly dengan suara lembut tetapi penuh kebencian. “Penduduk lokal di sini tidak bisa dipercaya. Mereka semua sama saja.”

Kane menoleh ke arahnya, matanya menyipit tajam. “Apa maksudmu?”

Sherly pura-pura ragu, memainkan rambutnya sejenak sebelum melanjutkan. “Ketika aku pertama kali tiba di sini, aku percaya bahwa aku bisa menemukan orang-orang yang bisa membantuku. Tapi aku salah besar.”

Freya, yang sedang memeriksa senjata lasernya, berhenti sejenak dan menatap Sherly. “Apa yang mereka lakukan padamu?”

Sherly menarik napas panjang, berpura-pura menenangkan dirinya. “Awalnya di tempat ini, aku bertemu dengan Leena yang berasal dari dimensi lain juga, sama seperti aku.”

Kane mengangkat alis, terlihat lebih tertarik. “Leena? Jadi, dia bukan penduduk asli?”

Sherly mengangguk. “Benar. Tapi jangan biarkan fakta itu membodohimu. Dia bukan orang yang bisa di jadikan sekutu. Dia penipu ulung.”

Valen menyipitkan matanya, terlihat skeptis. “Apa yang dia lakukan padamu?”

Sherly menundukkan kepala, seolah mengingat sesuatu yang menyakitkan. “Dia berpura-pura menjadi penyelamatku. Berbicara manis, menawarkan bantuan, bahkan meyakinkan aku bahwa dia bisa membawaku keluar dari tempat ini.”

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Kane, tatapannya tajam.

Sherly mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca tetapi penuh kebencian. “Dia memanfaatkan aku. Dia menggunakan kepercayaan aku untuk mendapatkan apa yang dia inginkan—informasi, sumber daya, apa saja yang bisa dia manfaatkan. Ketika aku tidak lagi berguna, dia meninggalkan aku di tengah hutan, tanpa alat, tanpa perlindungan. Sehingga aku menjadi mangsa makhluk yang menangkapku tadi. Dan jika kalian tidak menolongku tadi, aku tidak akan kuat untuk bertahan, aku pasti sudah di bunuh mahkluk mutasi tadi.”

Freya menatap Sherly dengan penuh perhatian. “Jadi, itu sebabnya kamu bilang dia suka memanfaatkan orang lain seperti kita? Tapi apa hubungannya dengan Milo?”

Sherly tersenyum pahit. “Milo? Aku pernah mendengar namanya di sebutkan oleh Leena. Jika dia pernah bertemu Leena, aku yakin dia juga telah dimanfaatkan olehnya.”

Kane menggeram pelan. “Apa maksudmu?”

“Leena adalah orang yang licik,” lanjut Sherly. “Dia tidak peduli pada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Dia menggunakan siapa saja yang dia temui demi keuntungannya sendiri. Milo? Jika dia pernah bertemu Leena, aku yakin dia tidak keluar dari pertemuan itu tanpa kerugian besar.”

Kane berdiri perlahan, wajahnya gelap seperti malam itu sendiri. “Lalu bagaimana dengan para penduduk yang kamu maksudkan tadi? Apa hubungannya dengan Leena?”

Sherly terdiam sejenak, lalu menambahkan bahan bakar ke api kemarahan Kane. “Penduduk tempat Leena berada sekarang, di sebut suku Sinto. Leena dan suku SInto sedang merencanakan cara untuk menghancurkan para penduduk lainnya di pulau ini dan menguasai sumber daya yang ada di pulau ini. Orang-orang seperti dia tidak pernah berhenti. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri.”

Sherly menambahkan,"tadi aku mendengar kalian kehilangan dua orang anggota. Aku yakin itu ulah Sherly dan para suku Sinto yang tidak ingin ada orang asing mengganggu rencana mereka."

Kane mencengkeram gagang pisaunya dengan lebih erat, matanya menatap api unggun dengan intensitas yang hampir menakutkan.

“Orang seperti mereka akan membayar,” gumamnya pelan, tetapi cukup keras untuk didengar semua orang. “Leena, Suku Sinto, semuanya. Aku akan memastikan mereka membayar kematian kedua anggotaku.”

Freya melangkah maju, suaranya hati-hati. “Kane, kita harus tetap fokus pada tujuan utama kita. Milo.”

“Milo adalah bagian dari ini,” jawab Kane tajam. “Leena tahu sesuatu. Dan jika dia mencoba membohongi kita, dia akan menerima akibatnya.”

Sherly tersenyum kecil, memastikan tidak ada yang melihat ekspresinya. Dia tahu bahwa Kane sekarang berada di bawah kendalinya.

“Kane,” katanya pelan, “aku sangat tahu perkampungan itu. Aku tahu bagaimana cara mendekati Leena tanpa membuat dia curiga. Biarkan aku membantu kalian. Aku bisa membuatnya berbicara untuk menemukan Milo.”

Kael menatapnya dengan curiga. “Bagaimana kami tahu kau tidak mencoba mempermainkan kami?”
